Skripsi dan Mata Kuliah Teori

Advertisement
image from adisumaryadi.com

Sebagaimana penelitian ilmiah lainnya, penulisan skripsi tidak terlepas dari yang namanya teori. Menurut Kerlinger, teori adalah serangkaian konstruk (konsep), batasan, dan proposisi, yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan fokus hubungan dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi gejala itu. Atau lebih sederhananya menurut KBBI daring, teori dapat diartikan sebagai pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi.
Proses penulisan skripsi ini mengingatkan saya kepada beberapa mata kuliah di semester-semester sebelumnya yang berawalan kata ‘teori’. Dalam mata kuliah tersebut, kita akan menemukan pendapat-pendapat para ahli tentang objek yang dibahas. Tidak hanya definisinya, tetapi juga ciri-ciri, kategori-kategori, paradigma, dan lain sebagainya. Oh iya, bahkan pada mata kuliah yang namanya tidak mengandung kata ‘teori’, selalu ada teori yang harus dipelajari. Jadi disadari atau tidak, sepanjang perkuliahan kita selalu “bertemu” dengan para ahli beserta segala isi pikirannya.

Saya memiliki pandangan bahwa keberhasilan dalam mempelajari sesuatu adalah ketika kita dapat menangkap makna dan mengambil kesimpulan dari berbagai uraian yang ada. Begitu juga ketika mempelajari berbagai teori. Alih-alih mencoba membandingkan berbagai pendapat berbeda, otak saya justru akan bekerja untuk mencari kesamaan sebsgsi titik temu dari pendapat-pendapat tersebut, kemudian menyimpulkannya dengan bahasa sendiri. Seringkali pada mata kuliah-mata kuliah teori tersebut saya tidak dapat membuat kesimpulan. Hal ini membuat saya terus mempertanyakan apa manfaat mata kuliah tersebut.

Barulah di semester tua ini saya menemukan jawabannya. Pada kenyataannya, ketika menulis skripsi kita harus memilih teori ahli mana yang akan digunakan—dan tentu saja bukan teori kita sendiri. Bahkan dua atau lebih skripsi dengan judul yang sama bisa saja menggunakan teori yang berbeda. Idealnya, kita seharusnya memahami berbagai pendapat ahli, setidaknya yang berhubungan dengan judul yang diambil. Sehingga kita dapat memilih teori mana yang paling cocok dengan keadaan di lapangan.

Kendala yang tidak jarang dialami saat pemilihan teori adalah kurangnya bahan referensi berupa buku. Koleksi buku di perpustakaan kadangkala kurang lengkap dan kurang banyak. Terlambat sedikit, buku yang dibutuhkan bisa jadi lebih dulu dipinjam teman. Maka bagi teman-teman yang masih berkesempatan menjalani perkuliahan di kelas alias masih semester bawah, bersyukurlah ketika dosen memberikan rekomendasi satu atau dua buku untuk dijadikan pegangan. Apalagi jika dosen tersebut bersedia memfasilitasi pembelian secara kolektif. Saran saya, beli saja bukunya. Meskipun memang rasanya berat karena harganya jauh berkali-kali lipat dari LKS yang biasa dipakai saat sekolah, tetapi ini untuk jangka panjang. Dan yang terpenting adalah simpan bukunya baik-baik. Kalau beli lalu hilang ya sama saja bohong.

Dan sekalipun kelak buku-buku tersebut rupanya tidak memberi manfaat yang maksimal, terutama dalam penulisan skripsi, setidaknya teori-teori yang terdapat di dalamnya masih bisa digunakan sebagai pembanding atau pelengkap dari teori utama yang kita pilih. Lumayan lah nambah-nambahin daftar pustaka. Lalu jika setelah lulus buku-buku itu terasa hanya memenuhi lemari, masih ada rak perpustakaan kampus yang menunggu untuk dilengkapi.


Author : Nina Isye Marwati



kalau dirasa teman2 bermanfaat tolong dishare yaa !!


jangan lupa cantumkan sumber, karena kalo enggak mencantumkan sumber, sama aja kalian nyuri, nyolong, maling.



salam semangat, dan mari tetap belajar menjadi lebih baik   !

Advertisement

You might also like

0 Comments


EmoticonEmoticon